31 Mei 2015

DUNIA SEMU #34


CHAPTER 34 - PANTAI

            Sinar mentari pagi perlahan menembus melewati celah-celah dinding, memberi kehangatan nyaman selepas dinginnya udara malam. Beberapa kicauan merdu para burung pun mengalun seolah mengiringi riuh keramaian manusia yang mulai terdengar di luar sana. Aku membuka mata menatap sekitar dan sejenak terduduk di atas ranjang busa sederhana berukuran satu kali dua meter.
            “Huft.. Aku masih berada di dunia antah berantah ini.” gumamku mengawali hari pada sebuah kamar penginapan sederhana di pinggiran kota Celadoni. Setiap pagi selalu berharap untuk terbangun di kamarku sendiri. Di sebuah dunia dimana semua kenangan bersama keluarga dan teman-temanku berada. Meski kadang ingatan itu semakin samar seiring dengan berlalunya hari.

10 Mei 2015

DUNIA SEMU #33


CHAPTER 33 - HARAPAN

            Terik matahari memancar menyentuh setiap celah kulit. Keringat panas mengalir dan menguap dari setiap lubang pori-pori. Hembusan angin mengusap tubuh, membawa debu dan dedaunan kecil yang terlepas dari dahannya. Hangat dan kering.
            Pandangan mataku menajam. Gigiku mengerat saling mengatup. Kedua tangan mengepal kuat hingga menampakan urat-urat hijaunya ketika melihat seorang lelaki berambut pirang bergelombang di hadapanku yang menyekap dan menyiksa Vivian dengan ikatan tali tambang dari tangan kirinya. Ia benar-benar tak berperikemanusiaan.

19 April 2015

DUNIA SEMU #32


CHAPTER 32 - EGO

            “Dionze, apa kamu tak bisa membuat kuda ini berlari lebih kencang lagi?”
            “Tentu saja aku bisa.”
            “Arrgghh, kenapa tidak kau lakukan sejak tadi?”
            “Apa kau benar-benar yakin? Bila kulakukan sekarang, maka kau harus segera turun dari kuda ini.”
            “Apa maksudmu??”
            “Yap, dengan begitu maka beban akan semakin berkurang sehingga dapat membuatnya berlari lebih kencang.”
            Mataku memicing, “Ha.. Ha.. Ha.. Lucu sekali. Kau bercanda dengan nada bicara serius seperti biasanya.”

15 Maret 2015

DUNIA SEMU #31


CHAPTER 31 - VANATOR

            Bagaimana caranya untuk membuktikan bahwa kita adalah yang terkuat? Ada yang berkata bahwa kita harus mampu mengalahkan segalanya dengan menyingkirkan yang lain. Entahlah, bagiku yang seperti itu justru membuatnya terlihat semakin lemah. Tak peduli sekuat apapun fisik mereka, bila hati telah tertutup hanya untuk mengalahkan dan mengalahkan, yang ada hanya akan membuat jiwa mereka semakin kosong dan lemah.
            Lalu, siapa yang mampu untuk menjadi orang yang terkuat? Tak ada yang tahu pasti. Hanya saja, selama mereka mampu melindungi minimal satu hal yang selalu mereka pegang, maka hal itu akan membuatnya menjadi yang terkuat. Tak terkecuali orang yang dianggap paling lemah sekali pun, karena kekuatan yang sebenarnya akan tumbuh di dalam hati yang terdalam.
***

22 Februari 2015

DUNIA SEMU #30


CHAPTER 30 - PERSIAPAN

            Setelah sekian banyak kejadian kualami di dunia yang penuh dengan misteri ini, beberapa hal telah membuatku tersadar akan sesuatu. Hidup bukan hanya sekedar berjuang. Bukan pula hanya sebatas tekad. Dibalik semua, segalanya harus dilakukan dengan penuh persiapan dan perhitungan.
            Tak jarang seseorang yang berusaha untuk hidup hanya berjuang dengan tekad dan kegigihan saja, bisa terjatuh dalam keterpurukan. Dan setelah itu malah justru menyalahkan hal lain yang tak ada hubungan dengannya.
            Seperti pepatah yang pernah kudengar dulu, ‘keberuntungan itu bukanlah suatu kebetulan belaka, keberuntungan datang ketika peluang dihadapkan oleh persiapan yang matang’. Yap. Persiapan. Setidaknya kita hanya akan menunggu peluang untuk mendapatkan kemenangan atau keberuntungan, selama persiapan yang baik telah kita lakukan sebelumnya.
***

28 Desember 2014

DUNIA SEMU #29


CHAPTER 29 - PUISI

            Masih jelas teringat bagaimana sulitnya menghadapi Tyron saat itu dan kini aku harus dihadapkan langsung oleh sang pemimpin tertinggi dari Bangsa Remidi, Sern, yang mengaku memiliki seratus kali lipat kekuatan Tyron. Entah ini memang sudah tertulis dalam takdirku, atau memang kesalahan yang membawaku pada keadaan ini. Semua ini terlalu cepat. Aku sama sekali belum siap bila memang harus menghadapinya sekarang. Biar bagaimanapun juga aku hanyalah manusia biasa. Manusia biasa yang lemah tak berdaya.
            Tapi..
            Tak ada yang tak mungkin bila kita memang berusaha untuk menghadapinya. Terkadang sesekali suara samar mendengung di dalam kepala seolah berkata, ‘Semua akan baik-baik saja’. Aku yakin sekecil apapun peluang yang kita miliki untuk menghadapi masalah, tetap saja peluang itu ada. Lebih baik daripada berpikir tak ada peluang sama sekali. Lagipula, dibalik semua kelemahan setiap manusia, tak ada yang tahu potensi besar apa yang ada di dalamnya.
***

15 Desember 2014

DUNIA SEMU #28


CHAPTER 28 - MANIPULASI MASAL

            Berlari, menghindar, menyelinap, menunduk, dan berhenti, itulah yang kami lakukan sejak keluar dari pondok persembunyian. Hingga saat ini masih belum pasti kemana tempat yang akan kami tuju. Diksy yang sejak tadi berada di depan hanya melakukan pengarahan dengan beberapa isyarat dan berlari tanpa bicara sepatah kata pun.
            “Diksy.. Sebenarnya tujuan kita itu kemana?” aku sedikit berbisik dari belakang punggungnya. “Entah ini hanya perasaanku saja atau tidak, tapi dari tadi rasanya kita hanya berputar-putar.”
            “Ssssttt.. Jangan banyak berbicara!”
            Apa maksudnya? Aku hanya bisa diam dan mengangguk meski ada perasaan jengkel di dalam hati karena sikapnya yang tiba-tiba menyebalkan.
            Dari belakang kuperhatikan tengkuk Diksy begitu basah karena keringat. Napasnya pun terengah dan kakinya agak sedikit bergetar. Mungkin ia sangat kelelahan karena harus terus berlari dan juga mengatur penyelinapan ini agar tak ada satupun dari kami tertangkap oleh para tentara Eternality.