19 Januari 2016

DUNIA SEMU #37


CHAPTER 37 - TIPUAN

            Cuaca pagi ini masih cerah, sama seperti hari-hari sebelumnya. Udara lembab dan hangat khas daerah pesisir mengalir bergemuruh bersama dengan angin yang melewati setiap celah rimbunnya pepohonan. Terik matahari pagi pun masih menyorotkan sinarnya dari timur, sedikit terhalang dedaunan dan menampakkan bayangan dan cahaya yang indah.
            Tapi..
            Apa yang sebenarnya kulakukan di tempat ini? Terduduk di atas tanah coklat pasir kering, penuh dengan guguran daun, dengan pakaian seadanya tanpa alas kaki.
            “Segera kenakan baju zirahmu itu!” seru seorang gadis muda berambut merah dengan nada suara agak tinggi. Ia berdiri angkuh tepat di sampingku.
            Apa ia sedang berbicara denganku? Aku menengoknya sebentar lalu menundukkan kepala. Bagiku ucapannya hanya seperti angin lembab yang hanya mengusap kulitku sesaat dan kemudian menghilang.

9 Agustus 2015

DUNIA SEMU #36


CHAPTER 36 - KEBIMBANGAN

            “Silahkan diminum tehnya, Tuan Putri dan Tuan Enutra. Makanan utama akan segera disajikan beberapa saat lagi.” ucap sang pemilik penginapan bernama Sam sambil melayangkan senyuman ramahnya.
            “Terima kasih.”
            Saat ini aku dan Vivian berada pada halaman depan bangunan penginapan, atau bisa dibilang sebagai area cafe di penginapan milik Pak Sam. Ada enam buah meja kayu bundar berwarna putih dengan empat kursi sederhana yang mengitarinya. Posisi meja-meja tersebut terpasang dua baris saling berjajar. Sederhana namun tak menghilangkan kesan artistik akan penataannya yang dihiasi dengan beberapa pita biru kuning dan tanaman-tanaman hias yang menggantung di atasnya. Kesederhanaan yang indah dengan balutan kreatifitas seni dari sang pemilik.

7 Juni 2015

DUNIA SEMU #35


CHAPTER 35 - PENEMPA

            Langkah kaki melewati sebuah pintu kaca buram berbingkai kayu jati bersamaan dengan suara ‘Claank’ dari lonceng kecil yang menggantung di atasnya. Mataku mengamati sekitar. Nampak ruangan seluas kira-kira dua puluh meter persegi dengan berbagai peralatan bertarung seperti pedang, pisau, tombak, kapak, gada, tameng, dan baju zirah yang terpampang rapi baik di dalam etalase maupun tergantung pada dinding-dinding ruangan. Selain itu terdapat pula martil-martil berbagai ukuran yang tergantung di rangka langit-langit. Dari awal aku sudah mengira akan seperti ini ketika melihat baliho seukuran dua kali setengah meter terpampang tepat di atas kaca depan rumah Lena bertuliskan ‘Toko Tempaan Ambriel’. Ternyata tempat tinggalnya merupakan toko yang menjual hasil-hasil tempaan untuk para ksatria.

31 Mei 2015

DUNIA SEMU #34


CHAPTER 34 - PANTAI

            Sinar mentari pagi perlahan menembus melewati celah-celah dinding, memberi kehangatan nyaman selepas dinginnya udara malam. Beberapa kicauan merdu para burung pun mengalun seolah mengiringi riuh keramaian manusia yang mulai terdengar di luar sana. Aku membuka mata menatap sekitar dan sejenak terduduk di atas ranjang busa sederhana berukuran satu kali dua meter.
            “Huft.. Aku masih berada di dunia antah berantah ini.” gumamku mengawali hari pada sebuah kamar penginapan sederhana di pinggiran kota Celadoni. Setiap pagi selalu berharap untuk terbangun di kamarku sendiri. Di sebuah dunia dimana semua kenangan bersama keluarga dan teman-temanku berada. Meski kadang ingatan itu semakin samar seiring dengan berlalunya hari.

10 Mei 2015

DUNIA SEMU #33


CHAPTER 33 - HARAPAN

            Terik matahari memancar menyentuh setiap celah kulit. Keringat panas mengalir dan menguap dari setiap lubang pori-pori. Hembusan angin mengusap tubuh, membawa debu dan dedaunan kecil yang terlepas dari dahannya. Hangat dan kering.
            Pandangan mataku menajam. Gigiku mengerat saling mengatup. Kedua tangan mengepal kuat hingga menampakan urat-urat hijaunya ketika melihat seorang lelaki berambut pirang bergelombang di hadapanku yang menyekap dan menyiksa Vivian dengan ikatan tali tambang dari tangan kirinya. Ia benar-benar tak berperikemanusiaan.

19 April 2015

DUNIA SEMU #32


CHAPTER 32 - EGO

            “Dionze, apa kamu tak bisa membuat kuda ini berlari lebih kencang lagi?”
            “Tentu saja aku bisa.”
            “Arrgghh, kenapa tidak kau lakukan sejak tadi?”
            “Apa kau benar-benar yakin? Bila kulakukan sekarang, maka kau harus segera turun dari kuda ini.”
            “Apa maksudmu??”
            “Yap, dengan begitu maka beban akan semakin berkurang sehingga dapat membuatnya berlari lebih kencang.”
            Mataku memicing, “Ha.. Ha.. Ha.. Lucu sekali. Kau bercanda dengan nada bicara serius seperti biasanya.”

15 Maret 2015

DUNIA SEMU #31


CHAPTER 31 - VANATOR

            Bagaimana caranya untuk membuktikan bahwa kita adalah yang terkuat? Ada yang berkata bahwa kita harus mampu mengalahkan segalanya dengan menyingkirkan yang lain. Entahlah, bagiku yang seperti itu justru membuatnya terlihat semakin lemah. Tak peduli sekuat apapun fisik mereka, bila hati telah tertutup hanya untuk mengalahkan dan mengalahkan, yang ada hanya akan membuat jiwa mereka semakin kosong dan lemah.
            Lalu, siapa yang mampu untuk menjadi orang yang terkuat? Tak ada yang tahu pasti. Hanya saja, selama mereka mampu melindungi minimal satu hal yang selalu mereka pegang, maka hal itu akan membuatnya menjadi yang terkuat. Tak terkecuali orang yang dianggap paling lemah sekali pun, karena kekuatan yang sebenarnya akan tumbuh di dalam hati yang terdalam.
***