11 Mei 2014

DUNIA SEMU #24


CHAPTER 24 - TERKORBANKAN    

            “Mikoto, awas di sebelah kananmu!” Dionze berteriak ketika melihat rekannya berada dalam posisi yang berbahaya.
            Mikoto menoleh, dan hanya bisa terdiam mematung. Ia tak dapat mengelak dari serangan cepat yang dilancarkan oleh para pasukan Remidi. Kini yang dilakukannya hanyalah menutup mata dan pasrah dengan apa yang terjadi. Namun...
             ~Zwiingg..
            “Ada apa ini?!” Teriak Dionze keheranan.
            Tiba-tiba saja seluruh pasukan Remidi serta makhluk-makhluk lain yang menyerang mereka menghilang secara bersamaan. Medan pertempuran yang asalnya penuh sesak, kini terlihat seperti lapangan luas. Hanya ada beberapa orang yang tersisa dengan kondisi yang berbeda-beda.

            “Dionze, Mikoto, lihat itu!” Diksy menunjuk pada dua orang yang sedang berdiri saling berhadapan. Di sekitarnya bergeletakan orang-orang yang mungkin sudah tidak bernyawa. Tidak terlalu jelas siapa dan apa yang mereka berdua lakukan sebenarnya.
            “Hey, bukankah itu Enutra?” Mikoto menunjuk salah satu dari dua orang yang saling berhadapan itu.
            “Ya benar, itu Enutra? Syukurlah, ternyata dia masih hidup. Tapi siapa orang yang sedang berhadapan dengannya itu?” Dionze berusaha memperhatikan sambil memicingkan matanya agar dapat melihat dengan jelas.
            “Tyron.” Diksy menjawab dengan ekspresi penuh kebencian. “Dia adalah Tyron, penguasa tempat ini.”
            Mikoto dan Dionze langsung melihat Diksy setelah mendengar perkataannya.
            “Jadi dia penguasa tempat ini? Lalu apa sebenarnya yang akan dia lakukan dengan Enutra disana?” Dionze bertanya-tanya.
            “Entahlah, tapi kelihatannya dia akan melakukan hal yang buruk pada Enutra.” Diksy mengepalkan tangannya keras-keras. “Kita harus segera membantunya!”
            “TEMAN-TEMAN!” Tiba-tiba Enutra melihat dan berteriak memanggil mereka.
            Tak lama setelah itu sesuatu yang aneh terjadi. Seketika badan mereka menjadi lemah tak berdaya. Semua orang yang berada di medan pertempuran terjatuh tanpa tenaga. Tubuh mereka terasa sangat berat untuk digerakkan, terkecuali leher dan kepala yang hanya bisa digunakan untuk berkomunikasi satu sama lain. Mereka seperti telah dilumpuhkan oleh kekuatan yang sangat besar. Namun Enutra dan Tyron yang sejak tadi saling berhadapan masih berdiri tegap. Terlihat bahwa mereka sedang saling membicarakan sesuatu. Entah apa yang mereka bicarakan, tapi Dionze, Mikoto, dan Diksy hanya bisa diam dan berharap sesuatu yang baik akan terjadi pada mereka semua.
***

            “Apa maksudmu dengan membuat mereka lumpuh seperti itu?!” Tanyaku dengan penuh amarah.
          “Apa maksudku? Bukankah tadi sudah kubilang kalau aku hanya ingin berduel satu lawan satu denganmu saja?”
            “Tapi kenapa kau harus melumpuhkan mereka?!”
            “Masih belum mengerti juga rupanya.” Tyron lalu mengarahkan pedangnya ke belakang ke arah teman-temanku yang sedang tidak berdaya tersebut. “Apa kau pikir mereka tidak akan membantumu jika kubiarkan mereka bebas begitu saja?”
            “Tapi..”
            “Tapi apa? Bukannya aku tidak sanggup jika menghadapi kalian semua.” Tyron kemudian menurunkan kembali pedangnya. “Sebenarnya aku bisa dengan mudah membunuh kalian meskipun hanya sendiri, tapi saat ini yang kuinginkan hanya berduel denganmu saja. Aku ingin mengetahui kekuatan misterius apa yang ada di dalam dirimu hingga dapat dengan mudah mengalahkan pasukan-pasukanku dan monster Cerberus di Kerajaan Olympus dulu.”
            Aku tertunduk. Aku sangat merasa bersalah, karena aku mereka semua akhirnya terseret ke dalam masalah ini. Tak ada yang bisa kukatakan lagi. Namun, setidaknya aku telah mengetahui bahwa teman-temanku hanya dilumpuhkan sementara dan semoga saja tidak akan terjadi hal yang serius pada mereka.
            “Baiklah, kalau begitu aku ingin kita bertarung di tempat yang lebih aman agar tak melukai semua teman-temanku yang telah kau lumpuhkan.”
            “Lagi-lagi kau membuat permintaan.” Tyron menusukkan pedangnya ke tanah. “Baiklah, ini adalah permintaan terakhirmu.”
            Lalu tusukan pedang tersebut mengeluarkan cahaya hijau yang sangat terang hingga tak terlihat apapun kecuali yang nampak hanya cahaya hijau tersebut. Setelah cahaya itu menghilang dari pandanganku, aku dan Tyron sudah berada di sebuah atap salah satu bangunan tinggi di dalam kubah kegelapan.
            Kali ini Tyron tak banyak bicara. Ia hanya menggerakkan tangan kanannya ke depan dengan posisi seolah sedang menumpahkan pasir ke bawah. Setelah itu dari lantai terdapat sinar hijau yang kemudian membentuk seperti sesuatu yang ku kenal. Ya, sinar tersebut akhirnya berubah menjadi satu set pakaian beserta perlengkapan perangku namun minus dengan tameng Cerberus. Memang, selama ini perlengkapanku telah dilucuti semenjak berada di tahanan dan hanya mengenakan kaus lengan panjang dan celana berbahan kulit tipis yang lusuh. Tapi apa maksudnya dengan yang ia lakukan ini?
            “Apa ini maksudnya?” tanyaku pada Tyron.
            “Aku hanya menginginkan pertarungan yang adil denganmu.”
            “Sulit ku percaya. Bukankah kau adalah orang yang penuh dengan kelicikan?”
            Tyron kembali tersenyum menyeringai. “Aku memang licik, tapi tak ada salahnya kan jika aku sekali saja berbuat adil. Silahkan pakai peralatanmu.”
            Meskipun aku tak begitu percaya dengannya, tapi tak ada salahnya jika pakaian ini kembali kugunakan.
            “Dimana tamengku?”
            “Maaf, kalau itu aku tidak bisa mengembalikannya padamu. Tamengmu sudah kupergunakan untuk pembuatan pakaian yang sedang kugunakan saat ini. Hahahaha..” Tyron tertawa keras.
            “Sialan.” Aku bergumam.
            “Tapi tak apa kan jika kau tak menggunakan tameng jelekmu itu? Aku yakin kau masih bisa melawanmu meski tanpa tameng di tangan kirimu.”
            Semakin erat ku genggam gagang pedang ini. Rasanya ingin segera ku tebas si Tyron sialan itu. Tanpa pikir panjang, aku langsung berlari sekencang-kencangnya dan bersiap untuk mengayunkan pedangku padanya. “Aku sudah tak peduli dengan kata-katamu lagi!!”
            Tyron menatap tajam padaku. “Oh, jadi sudah dimulai ya?”
            Sebelum pedangku mengenainya, sempat terlihat senyuman dari wajah Tyron yang sedang menatap tajam padaku. Setelah itu..
            ~Ziiinggg..
            Tiba-tiba saja Tyron menghilang dari hadapanku. Entah dimana ia sekarang? Gerakannya begitu cepat. Apakah ia menggunakan kekuatan teleportasi? Tapi, bukankah kekuatan tersebut memerlukan waktu yang cukup untuk mengaktifkannya? Lagipula tak terlihat cahaya hijau yang biasanya muncul saat kekuatan tersebut diaktifkan.
            Tanpa kusadari, terdengar suara bisikkan dari telinga kiriku. “Terlalu lambat.”
            Belum sempat menoleh, sebuah kekuatan yang sangat dahsyat mengenai dadaku dan menghempaskanku hingga terpelanting sangat jauh melewati bangunan tinggi lainnya dan menghancurkan dindingnya. Sakit sekali rasanya meski baju zirah yang kukenakan ini mampu melindungi tubuhku dari sayatan pedang Tyron. Bila saja baju zirah ini tidak ada, mungkin barusan aku sudah mati seketika.
            “Ah, mengecewakan sekali. Kenapa kau begitu lemah?” Entah darimana datangnya, Tyron kini sudah ada di sampingku.
            Sama sekali tidak kugubris perkatanyaan. Aku hanya bisa meringis menahan rasa sakit yang terasa di sekujur tubuhku.
            Sepertinya Tyron tidak begitu senang dengan sikapku yang dingin ini. Sekali lagi ia ayunkan pedangnya dan mencoba untuk menebasku kembali. Tapi, tidak seperti sebelumnya, aku akan menahan serangannya dengan menggunakan pedangku ini.
            ~Dang!! Blassstttt!!
            Tidak mungkin! Tenaganya begitu kuat! Meski sudah kutahan sekuat tenaga dengan menggunakan pedang, tetap saja aku terhempas hingga menghancurkan tembok-tembok bangunan di sekitarku. Kekuatan yang luar biasa. Aku pikir kekuatan yang kumiliki saat ini bisa menandingi serangannya. Jika terus begini, mana mungkin aku bisa menang melawannya.
            Sementara itu terlihat Tyron berdiri tegap pada salah satu atap bangunan sambil menatap tajam padaku. Pedangnya yang berukuran besar pun berdiri tanpa ia pegang karena ditusukkan pada lantai bangunan tersebut. Jubah hitamnya berkibar diterpa angin kering khas kubah kegelapan. Ia tak banyak bergerak dan hanya terus menatapku seolah ingin menghancurkanku. Perlahan ia mulai menyeringai dengan senyuman khasnya diiringi dengan gerakan kedua tangannya yang ia gerakkan kesamping hingga ke atas. Entah apa maksud dari gerakan itu, tapi firasatku mengatakan bahwa sesuatu yang buruk akan terjadi.
            Tak lama kemudian mulai kusadari bahwa benda-benda di sekitarku mulai bergetar seolah berusaha untuk bergerak. Apa ini memang benar terjadi atau hanya perasaanku saja?
            Tyron masih berada di tempatnya dengan sikap yang sama, kedua tangannya ia angkat tinggi-tinggi seolah sedang menopang langit. Dari ujung tangannya terlihat setitik cahaya kuning kecil dengan beberapa kilatan-kilatan listrik di sekitarnya. Titik cahaya tersebut semakin lama semakin besar hingga seperti bola plasma Tesla[1] raksasa yang mengambang di udara. Langit pun mendadak menjadi lebih gelap dari sebelumnya. Awan hitam berkumpul di atasnya membentuk sebuah pusaran raksasa. Sungguh energi yang sangat luar biasa. Belum pernah aku melihat kekuatan seperti ini kecuali pada film-film aksi yang pernah ku tonton.
            “Enutra, terpaksa harus kulakukan ini karena aku sangat kecewa bahwa ternyata kau benar-benar lemah.” Tyron berkata sambil terus mengeluarkan kekuatannya.
            Aku tak tahu harus berbuat apa. Apa aku harus mati di tempat seperti ini olehnya?
            Mataku terpejam, berharap semua ini cepat selesai.
            “RASAKAN INI!!” Tyron berteriak keras sambil mendorongkan energi besarnya ke arahku. “HHAAAARRRGGGGHHHHH!!!!”
            ~Zinnkkk..
            “Aku akan menyelamatkanmu.”          Tiba-tiba terdengar suara bisikkan setelah Tyron berteriak.
            Sesaat setelah itu badanku di dorong dengan kuatnya hingga terlempar jauh dari sasaran tembak Tyron.
            Siapa yang telah mendorongku? Aku membuka mata dan terlihat Ryo sedang berdiri di sana sambil merapalkan mantra untuk memunculkan skil tameng. Apa yang dia lakukan? Kenapa ia tidak dilumpuhkan seperti yang lainnya?
            Tembakan energi Tyron pun akhirnya melesat dan menyerang skil tameng Ryo dengan sangat kuat. Kilatan energi yang dikeluarkan begitu sangat menyilaukan. Sulit untuk melihat apa yang terjadi dengannya. Terdengar suara remukkan bebatuan dan ledakkan-ledakkan kecil di sekitarnya. Aku hanya bisa diam tanpa bisa melakukan apa-apa.
            Energi tersebut akhirnya meledak dengan sangat hebat hingga sempat menghempaskanku beberapa meter. Terlihat material-material sisa ledakkan berhamburan terlempar ke segala arah. Tak bisa kubayangkan apa yang terjadi pada Ryo saat ini.
            Kabut debu mengelilingi. Sulit rasanya untuk melihat sekitarku setelah ledakkan besar tersebut terjadi. Dalam keadaan yang lemah ini, kucoba untuk mengumpulkan sisa-sisa tenaga agar dapat berjalan mendekati Ryo. Entah apa yang ada di pikiranku saat ini, semuanya begitu tercampur aduk. Dalam hati berkali-kali terus kukatakan ‘semoga Ryo masih selamat’.
            ~Wuusshhh..
            Belum sempat aku mendekati Ryo, seketika debu-debu ledakan menghilang dengan sendirinya. Tidak. Debu-debu tersebut sengaja dihilangkan oleh Tyron yang masih berdiri di tempatnya.
            “Lah? Kenapa orang yang ku tembak jadi berubah?” Tyron lalu mengamati sekitar ledakan seolah sedang mencari-cari sesuatu. “Haa.. Jadi kau ada di sana? Tak ku sangka kalau kau masih bisa bertahan dari seranganku tadi.”
            Aku menatap tajam pada Tyron. Ingin rasanya kuucapkan sumpah serapah padanya. Namun, segera kupalingkan wajahku darinya. Aku tak peduli lagi dengannya dan terus berjalan. Entah apa yang dipikirkan Tyron saat ini, yang jelas ia seperti sedang membiarkanku untuk berjalan mendekati bekas ledakan tadi.
            Terkejut aku ketika melihat apa yang terjadi, sebuah cekungan yang sangat dalam dengan diameter puluhan meter terbentuk akibat ledakan serangan Tyron. Semua benda yang ada di sekitarnya pun hancur berkeping-keping olehnya.
            “Ryo!” Sontak kuteriakkan namanya setelah melihat seorang pria yang terkapar tak sadarkan diri di tengah cekungan tersebut. Tubuhnya bersimbah darah penuh dengan luka. Pakaiannya hancur dan hanya menyisakan pelindung-pelindung metal yang melindungi bagian vitalnya.
            Aku berlari sambil terus meneriaki namanya. “Ryo! Aku mohon sadarlah!” Kugapai pergelangan tangan Ryo untuk memeriksa nadinya. Tak ada detakan lagi! Segera kutempatkan kedua telapak tangan dan menekannya berkali-kali pada dadanya sesuai dengan langkah-langkah pertolongan ala CPR[2]. Namun, ia masih terdiam. Ia tak akan kembali tersadar.
            Tanpa kusadari air mataku menetes dengan sendirinya. Sudah tak dapat kupungkiri lagi bahwa Ryo memang telah meninggalkan dunia ini. Ia telah mengorbankan dirinya sendiri untuk menyelamatkanku. Aku sangat merasa bersalah. Sangat bersalah. Kenapa ini harus terjadi padanya?!
            Terdengar suara dari atas. “Oi.. Oi.. Sudah selesai drama-dramaannya?” Aku menengok dan melihat Tyron sedang duduk melihatku.
            Tanganku mengepal sangat kuat. Urat-uratku menegang disertai keringat panas yang menguap dari kulitku. Aku menatap tyron dengan perasaan penuh kebencian.
            “BRENGSEK! Bukankah sudah kukatakan untuk tidak melibatkan teman-temanku dalam pertarungan kita!!” Teriakanku memecahkan amarahku.
            “Tunggu dulu. Aku memang tidak melibatkan temanmu itu dalam pertarungan kita. Bahkan aku sama sekali tidak tahu kalau yang aku serang tadi itu adalah temanmu.”
            “Tidak usah mengelak begitu!!”
            “Waahh.. Kok jadi marah-marah begitu?” Tyron lalu perlahan turun dari atap tersebut seolah melayang dengan lembut dan ketika mendarat ia mulai berjalan mendekatiku. “Aku bahkan tidak menyangka kalau dia bisa terbebas dari efek pelumpuhku.”
            “Tidak usah bertele-tele! Kau memang sengaja kan?! Dasar Iblis!!” Aku semakin marah mendengar perkataan Tyron. Sementara itu ia tidak terlalu mendengarkan perkataanku dan malah terus berjalan sambil memerhatikan Ryo yang tergeletak di dekatku.
            “Eh.. Pantas saja..” Mendadak Tyron menghentikan langkahnya setelah mengamati Ryo. “Ternyata dia adalah seorang Atentator yang juga ahli dalam penyamaran. Pantas saja dia tidak terkena efek pelumpuh karena sebelumnya tidak terdeteksi olehku. Tapi sayang sekali ia harus mati sia-sia begini.”
            Aku tak mengerti dengan apa yang dikatakan olehnya. Yang jelas amarahku kali ini sudah semakin memuncak. Namun entah apa yang harus ku lakukan? Kekuatanku hanya sebatas sampai di sini. Aku masih belum bisa melampaui kekuatan mengerikan yang dimiliki Tyron.
            “Entah apa yang akan kau lakukan lakukan lagi kepadaku, aku tak akan pernah menyerah sedikit pun!” Aku mengarahkan telunjukku tepat pada wajah Tyron.
            “Wah berani sekali kau berkata seperti itu? Padahal kau tadi hampir mati olehku.” Tyron menurunkan tanganku yang tadi menunjuk pada wajahnya. “Sabar, aku masih mengisi tenagaku setelah tadi hampir kukeluarkan semuanya.”
            Jadi, dia sudah melemah karena serangan tadi? Ini harusnya jadi kesempatanku untuk menyerangnya. Dengan cepat aku mengayunkan pedang yang tergenggam di tangan kiriku dan mengarahkannya tepat pada wajah Tyron.
            “Ups, masih terlalu cepat seratus tahun untuk bisa mengalahkanku.” Tyron berbisik dan langsung menghilang sebelum pedang yang ku ayunkan mengenai wajahnya. Ini seperti yang terjadi saat pertama kali aku menyerangnya.
            Aku menoleh ke semua sudut untuk mencari Tyron yang menghilang. Namun, bayangan hitam besar nampak mendekatiku dan arahnya berasal dari belakangku. “Sial, lagi-lagi aku telah lengah.” Setelah aku menoleh ke belakang, sebuah batu besar menghantamku dengan sangat kuat. Aku terhempas sangat jauh dan menabrak salah satu dinding bangunan di kubah ini.
            “Maaf, aku lupa telah meninggalkan pedangku di atas. Tapi menyerangmu dengan batu ternyata boleh juga.” Tyron tertawa keras setelah melihatku tengah meringis kesakitan.
            “Dasar kurang ajar....”
            “Diam!” Tyron memotong omonganku dan menghantamku kembali dengan potongan beton besar yang terbang di dekatku.
            Darah segar mengalir dari kepalaku. Dunia terasa semakin gelap. Mungkinkah aku akan segera menyusul Ryo? Mati di tangan monster tak berperasaan itu.
            ~“Jangan mati!”
            Tiba-tiba saja terdengar suara wanita yang terasa tidak asing di dalam kepalaku. Apa aku sudah mulai tidak sadarkan diri?
            ~“Aku mohon jangan mati!”
            Lagi-lagi suara itu muncul. Suara siapa itu? Rasanya dulu aku pernah mendengar suara itu.
            ~“Hanya kaulah satu-satunya penyelamat kami, Tuan Enutra. Aku mohon bertahanlah.”
            “Vivian!” Entah mengapa tiba-tiba aku meneriakkan namanya, tapi.. Tapi suara itu memang mirip dengan suaranya.
            Seketika tubuhku menjadi terasa ringan. Penglihatanku berubah menjadi semakin buram. Sepertinya ini terjadi lagi.
            “Ayo serang aku, Enutra!” Tyron masih menyerangku dengan melempar-lemparkan batu dan pecahan beton.
            Aku masih tersadar dengan apa yang terjadi padaku, tapi aku tak dapat mengendalikan tubuhku. Tanganku bergerak dengan sedirinya dan..
            ~Dhuaarrr..
            Batu besar yang seharusnya menghantamku langsung hancur seketika.
            Tyron terkejut setelah melihat apa yang terjadi dan langsung menghentikan serangannya. “Hmm.. Ini baru menarik.” Kemudian Tyron memasang senyuman khas di wajahnya.
***


[1] Sebuah bola lampu lucutan gas yang menggunakan plasma sebagai sumber cahaya. Lampu plasma diciptakan oleh Nikola Tesla setelah percobaannya dengan arus listrik frekuensi tinggi pada tabung gelas hampa untuk kepentingan mempelajari fenomena tegangan tinggi.
[2] CPR (Cardiopulmonary resuscitation) adalah tindakan pertolongan pertama pada orang yang mengalami henti napas karena sebab-sebab tertentu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar