28 April 2014

DUNIA SEMU #23


CHAPTER 23 - DESAKKAN

            Apa aku sudah benar-benar yakin dengan tindakanku ini? Apa memang ini semua harus dilakukan? Benarkah ini memang diriku? Sebenarnya apa alasanku untuk datang ke dunia ini? Biar bagaimanapun juga segalanya sudah terlanjur terjadi. Entah apa yang akan terjadi selanjutnya, aku hanya mencoba untuk terus menjalaninya. Meskipun itu semua bertentangan dengan hati nurani.
            Dibunuh, atau membunuh. Seakan kata-kata tersebut menjadi lumrah dan tersimpan di dalam pikiran. Aku tak tahu apakah yang kulakukan ini benar atau salah. Hanya saja.. Hanya saja jika aku terbiasa untuk terus berdiam dan menjadi orang yang tidak peduli, rasanya hidup ini akan menjadi sia-sia. Aku benci melihat orang-orang tak berdosa tersakiti. Aku tak bisa. Aku tak bisa hanya diam dan melihat hal itu terjadi!!

            “HHHAAAAaaaaaaggghhhh!!!!” Sebuah energi yang luar biasa kuat keluar saat pedang yang ku genggam ini diayunkan. Seketika belasan pasukan Remidi yang ada di hadapanku terhempas jauh dan memuntahkan darah dari mulutnya.
            Dunia terasa melambat. Ayunan pedang dan lesatan tembakan panah dapat ku tangkis dengan mudahnya. Setelah itu, aku melompat bersalto dan kemudian mengarahkan pedangku ke bawah. Entah gerakan apa ini, aku hanya mengikuti insting bertarung yang tiba-tiba muncul dalam diriku.
            Pedang ‘Dartmouth Eterna’ ini akhirnya menancap pada tanah bersamaan dengan tapakkan kakiku. Setelah itu seketika waktu menjadi terasa berhenti. Semua pasukan remidi yang ada di dekatku seolah terdiam. Kemudian tusukan pedangku membuat retakan-retakan pada tanah dan mengeluarkan sinar hijau yang sangat menyilaukan dari dalamnya. Hanya berselang beberapa detik, semua terlihat kembali seperti semula. Tidak. Semua pasukan remidi yang berada dalam radius beberapa meter dariku kini bergeletakan tak berdaya. Kekuatan mengerikan apa ini? Kenapa aku bisa melakukannya?
            “Siapapun, Tolong aku!!
            Aku menoleh setelah mendengar teriakan seorang wanita dari kejauhan. Ternyata teriakan itu berasal dari Alisana Danish, salah satu teman wanita satu kelompokku saat di pelatihan Velika. Kini ia terlihat sangat terdesak oleh serangan bertubi-tubi yang dilancarkan oleh para pasukan Remidi.
            “Alisana! Menunduklah!” Aku berteriak sambil berlari mendekatinya. Ia lalu menoleh ke arahku dengan tatapan seolah tidak percaya dengan apa yang ia lihat. “Ayo menunduk!!” Sekali lagi aku berteriak padanya dan Alisana pun langsung mengikuti perkataanku dengan menundukkan badannya.
            Dengan kecepatan yang luar biasa dan bisa dibilang hampir di luar akal sehat manusia, aku mengayunkan ‘Dartmouth Eterna’ di atas tubuh Alisana. Seketika belasan pasukan remidi serta para serigala pembunuh yang tadi menyerangnya terhempas sangat jauh dengan luka-luka sayatan di tubuh mereka.
            “Apa kau tidak apa-apa, Alisana?” aku menyentuh pundaknya. Ia hanya terdiam melihatku seolah tidak percaya dengan apa yang dilihatnya barusan.
            “E.. Enutra? Ke.. Ke.. Kenapa kau ada di sini? Bukankah seharusnya kau ....”
            “Waaahhh.. Panjang ceritanya.”
            Tiba-tiba saja Alisana memelukku dengan erat. “Syukurlah kau selamat! Aku.. Ma.. Maksudku kami semua sangat mengkhawatirkanmu!”
            “I.. Iya.. Tapi kita masih belum aman karena masih banyak musuh di sekitar kita.” Jantungku berdegup cukup kencang dan darah mengalir deras di tubuhku karena dada Alisana yang cukup besar menempel pada dadaku. Bisa dibilang ini adalah Jackpot pikirku dalam hati sambil tersenyum.
            Alisana pun melepaskan pelukannya sambil kembali memasang kuda-kuda untuk bertarung. Sesaat ia melirik tersenyum padaku sambil membisikkan sesuatu, “Terima kasih karena telah menyelamatkanku, aku telah berhutang padamu.”
            “Apa yang kau katakan? Sebaiknya kita harus menyelamatkan semua teman-teman kita dulu dari serangan Remidi ini.” Wajahku sempat memerah namun dengan segera aku bergerak dan memasang posisi saling membelakangi satu sama lain. “Sebenarnya, akulah yang seharusnya berterima kasih pada kalian semua karena telah berusaha untuk menyelamatkanku. Terima kasih, Alisana.” Aku masih belum percaya, di balik sikapnya yang dingin saat itu ternyata ia juga mempunyai sisi yang manis.
            Setelah itu, aku tak bisa berkata lebih banyak lagi padanya. Ah.. Apa sebenarnya yang ada di pikiranku ini? Pertarungan ini masih belum selesai!
            “E.. Enutra.. Mari kita bekerja sama seperti saat di pelatihan waktu itu.” Alisana berbicara padaku dengan suara yang sedikit terbata-bata. Sekilas terlihat pipinya memerah ketika aku menoleh ke arahnya.
            “Baik.. Mari kita bekerja sama seperti waktu itu.” Aku mengangguk menyetujuinya sambil tersenyum.
***

            “Dionze.. Sudah lama kita tidak bertemu.”
            “Whoaaa.. Jendral Besar Diksy!?” Dionze terkejut ketika mengetahui pria yang membisikannya itu adalah teman satu kerajaannya sendiri. “Kenapa anda bisa ada di sini?”
            “Tentu saja untuk membantumu.” Diksy membalasnya sambil tersenyum. “Sudah berhari-hari kau tidak kembali ke kerajaan.”
            “Siapa dia, Dionze?” Mikoto yang sejak tadi serius menghadapi lawan-lawannya mencoba untuk ikut dalam percakapan antara Diksy dan Dionze.
            Diksy langsung menyela, “Whoaah.. Dionze, jadi selama tidak ada kabar, ternyata sekarang kau bersama dengan gadis cantik ini ya?”
            Wajah Mikoto sedikit memerah.
            Dionze lalu berbicara, “Ah ya.. Dia adalah atasanku, Jendral Besar Diksy.” Setelah menjelaskan pada Mikoto, Dionze lalu berbicara pada Diksy, “Ada banyak hal yang terjadi. Oh ya kenalkan, dia adalah Mikoto, bisa dibilang partner ku untuk sementara ini.”
            “Hahaha.. Menyenangkan sekali melakukan perkenalan di tengah pertempuran seperti ini.” Diksy tertawa sambil kemudian mengangkat cakar besi di tangannya dan menebaskannya pada salah satu pasukan Remidi yang akan menyerangnya.
            “Baiklah, mari kita selesaikan pertempuran ini!” Dionze pun kembali bertarung bersama dengan Diksy dan Mikoto di samping kanan kirinya.
            Saat pertarungan masih berlangsung, tiba-tiba saja Dionze teringat dengan percakapannya bersama Genba saat berada di Desa Kallita.
            “Ada seorang oknum yang bekerja sama dengannya.”
            “Darimana kau tahu tentang semua itu?”
            “Kamu masih meragukan kehebatanku meski kita sudah berhasil keluar dari penjara?”
            “Hmm.. Anak-anak buahmu memang mengagumkan. Baiklah aku akui kehebatanmu dan semua anak buahmu. Tapi tolong beritahu aku, siapakah oknum yang kamu maksudkan?”
            “Dia adalah Diksy, jendral besar Kerajaan Olympus.”
            “Jendral Besar Diksy?!”
            “Seharusnya kau sudah curiga ketika ia mengirimmu beserta dua jendral dan tiga ratus pasukan untuk menyerang kubah remidi di hutan emerald. Dia sudah berencana untuk menyingkirkanmu dan seluruh jendral kerajaan.”
            “Tidak mungkin!”
            “Dia jugalah yang telah menjebakmu ketika terjadi peledakan di Kota Velika. Aku tidak tahu apa motifnya hingga berbuat seperti itu, namun sepertinya ia berencana untuk menguasai Kerajaan Olympus dan Eternality dengan memanfaatkan kaum Remidi.”
            Dionze kemudian menggeleng-gelengkan kepalanya agar dapat mengembalikan konsentrasinya. Ia yakin bahwa apa yang dikatakan oleh Genba itu salah, meski ia merasakan adanya kejanggalan terhadap kedatangan Diksy saat ini.
***

            “Alisana, sepertinya wilayah ini sudah mulai aman, mari kita bantu teman kita yang lainnya.”
            Alisana menggangguk setuju padaku. Setelah itu kami berdua berlari menuju area dimana teman-teman kami sedang bertarung melawan para monster raksasa minotaur dan pasukan-pasukan Remidi.
            ~Ziinnkkk...
            Tiba-tiba terasa akan adanya serangan dadakan dari samping kiri. Benar saja. Meski sekilas, terlihat dari sudut mata puluhan anak panah melesat dengan kecepatan tinggi mengarah pada Alisana. Tanpa pikir panjang, kuhentikan langkah kakiku. Sesegera mungkin kugapai lengan Alisana dan menariknya pada pelukanku.
            ~Dang.. Dang.. Jleb.. Jleb.. Jleb..
            Dalam keadaan yang kurang terlalu siap, hanya beberapa anak panah yang mampu ku tangkis untuk melindungi Alisana, selebihnya menancap cukup dalam di punggungku.
            “Enutra!!” Alisana menangis di pelukanku. “Kenapa kau malah mengorbankan dirimu demi aku?!”
            “Alisana..” Aku berkata padanya sambil menahan rasa sakit di punggungku. “Ternyata sakit juga jika tertusuk panah yang sebenarnya.”
            “Kenapa kau sempat-sempatnya berkata seperti itu??” Alisana masih menangis di pelukanku.
            “Tapi beneran loh ini sakit banget.” Kemudian aku melepas pelukanku padanya. “Bisa kamu sembuhkan aku dengan teknik healing-mu?”
            Alisana mengusap air matanya dan melihat luka tusukan panah di punggungku, refleks ia menutup mulutnya dengan tangan sambil berkata, “Ya ampun!! Luka tusukkannya banyak sekali! Untunglah tidak mengenai bagian vitalmu.”
            “Benarkah? Pantas saja sakit sekali.”
            “Maaf.. Maaf.. Aku terlalu banyak bicara. Akan aku coba menyembuhkanmu sebisaku.”
            “Tapi, jangan lupa juga untuk memerhatikan sekitarmu. Jika musuh mulai mendekat dan membahayakanmu, tinggalkan saja aku di sini.”
            Alisana sedikit mengangguk dan kemudian mulai mengaktifkan teknik healing dengan mendekatkan telapak tangannya pada punggungku. Seperti teknik-teknik healing lainnya, dari telapak tangannya terlihat cahaya yang menyilaukan. Rasanya hangat dan nyaman saat proses ini berlangsung. Sakit akibat tusukan panah mulai berangsur-angsur menghilang. Panah-panah tersebut pun satu persatu tercabut dan berjatuhan dengan sendirinya.
            “Uhukk..” Terdengar Alisana terbatuk.
            “Alisana, apa kau mulai kelelahan? Jika memang begitu, kau bisa menghentikannya sekarang juga.”
            Tidak terdengar jawaban dari Alisana.
            Penasaran dengan apa yang terjadi apadanya, aku pun menengok ke belakang untuk memastikan, “Alisana, kenapa kau tidak menjawab ......” ternyata saat ini ia dalam keadaan setengah tak sadarkan diri sambil terus memberikan tenaga penyembuhan padaku. “Alisana! Sudah hentikan, kau akan melukai dirimu sendiri!”
            Alisana sama sekali tidak merespons perkataanku sambil terus mengeluarkan kekuatan healing-nya. Entah apa sebenarnya yang terjadi dengannya, apa mungkin ia terlalu memaksakan diri untuk mengeluarkan seluruh tenagannya? Berkali-kali aku mengguncang-goncangkan tubuhnya demi membuatnya sadar tapi hasilnya tetap saja nihil. Seolah-olah ia telah dikendalikan oleh kekuatannya sendiri. Sampai akhirnya ia pun ambruk terkulai tanpa sadar bersamaan dengan terlepasnya panah terakhir yang menancap di tubuhku.
            Aku menangkap tubuhnya yang lemah dengan kedua tangan sambil terus memanggil-manggil namanya. Sama sekali tak ada jawaban darinya. Dengan rasa khawatir, kuperiksa nadi dari tangan dan lehernya, detak jantungnya terasa semakin melemah. Apa yang harus aku lakukan? Otakku bekerja keras untuk memikirkan bagaimana caranya agar dapat membangunkan Alisana. Aku merasa sangat bersalah karena akulah yang membuat dia seperti ini.
            ~Ziinnkkk...
            Lagi-lagi terasa adanya bahaya yang mendekat. “Sial.. Disaat seperti ini mereka tetap membuatku semakin kesulitan.”
            Aku menengok ke sisi kiri dan menyadari bahwa puluhan panah kembali mengejarku. Kali ini serangan tersebut tak akan lagi melukaiku. Aku melompat sangat tinggi sambil menggendong Alisana di tangan. Dari atas, terlihat jelas puluhan pemanah yang berdiri berjejer menembakkan anak panahnya tanpa henti ke segala arah. Pakaian mereka mirip seperti pakaian Zekko dan Riki, sepertinya mereka adalah para pengikut Genba yang terhipnotis oleh kekuatan Tyron. Disaat yang sama, tiba-tiba saja terbesit ingatan saat meminum ramuan yang diberikan Zekko dan Riki. Terpikir olehku, mungkin saja para pemanah itu setidaknya memiliki satu ramuan dalam kantong mereka. Dengan cepat aku mendarat di atas tanah dan berlari secepat mungkin untuk menghampiri mereka.
            Kuhiraukan segala serangan pasukan Remidi dengan menghindari tebasan-tebasan pedang mereka. Prioritasku saat ini hanyalah untuk menyadarkan Alisana yang semakin lama semakin lemah.
            Saat salah satu dari pemanah tersebut mulai terlihat, dengan cepat aku berlari secara zig-zag dan kemudian melompat melewati kepalanya. Ia tak dapat menandingi kecepatanku. Saat ia akan berbalik, aku sudah membenturkan bahunya dengan kepalaku hingga ia jatuh tak sadarkan diri. Untunglah saat itu pemanah lain tak menyadari apa yang sedang terjadi dengan salah satu dari mereka.
            Segera kubaringkan Alisana yang sejak tadi berada di pangkuan kedua lenganku. Ternyata benar dengan apa yang kupikirkan, setelah menggeledah seluruh kantong pemanah tersebut, kutemukan sebuah botol kecil berisi cairan hijau persis seperti yang aku minum saat itu.
            “Alisana, minumlah ramuan ini.” Aku membuat Alisana duduk agar dapat dengan mudah meminum cairan tersebut. “Aku mohon, sadarlah Alisana.” Dengan penuh harap, semoga saja ia bisa kembali sadar secepatnya.
            Akhirnya detak nadi yang tadi sempat melemah berangsur-angsur mulai kembali normal. Meski ia masih belum sadarkan diri, setidaknya ia sudah bisa terselamatkan. Aku sama sekali tak bisa habis pikir bahwa ia dapat menjadi selemah itu saat menyembuhkan lukaku. Sepertinya ada batasan-batasan bagi para pengguna kekuatan tenaga dalam untuk melakukan teknik healing.
            Lagi-lagi entah mengapa insting ini mengatakan bahwa akan ada lagi sesuatu yang buruk.
            “Halo, Enutra. Sudah selesai bersenang-senang dengan gadismu itu?”
            Aku menengok ke belakang. Benar saja dengan apa yang kukhawatirkan sejak tadi, para pemanah mengelilingiku dengan puluhan anak panah yang siap dilepas dari busurnya. Sementara itu terlihat Tyron sedang berdiri di tengah-tengah mereka dengan posisi kedua tangannya menumpu pada pedang yang ditusukkan ke tanah.
            “Tyron.. Aku sudah menyangka kau pasti akan menyerangku di saat lengah seperti ini.” Aku bergumam dengan nada penuh kebencian. “Dasar pengecut!”
            “Tunggu.. Tunggu.. Aku bukanlah orang yang pengecut.” Tyron menaikan sebelah alisnya.
            “Terserah apa katamu, tapi perbuatanmu saat ini tidak mencerminkan perkataanmu.”
            “Sudah kukatakan, aku bukan pengecut.” Tyron lalu mengangkat tangan kanannya sambil tersenyum menyeringai, “Tapi kuakui, aku sangat suka berbuat licik.” Setelah itu ia menjentikkan jarinya.
            ~Clapp..
           Rasanya tidak mungkin jika aku harus mati dengan cara seperti ini. Seakan pasrah dengan apa yang akan terjadi, aku hanya bisa menutup mataku dan ....
            ~Zzzzaaapp.. ~Jleb.. Jleb.. Jleb..
            Apa yang terjadi? Mengapa tidak terasa apapun setelah mereka melepaskan anak panahnya?
            Perlahan kubuka mataku. Sungguh betapa terkejutnya setelah melihat para pemanah yang tadi mengarahkan panahnya padaku kini telah tergeletak tak berdaya dengan anak panah yang tertusuk di masing-masing dada mereka. Ada apa dengan mereka? Apa mereka saling menembakkan panah kepada teman-teman mereka?
            “Ada apa, Enutra? Kelihatannya kau terkejut?” Tyron menatapku sambil masih memasang senyuman yang menyeringai di wajahnya. “Lucu sekali melihat ekspresi wajahmu yang sedang terkejut itu.”
            “Apa maksudmu dengan semua ini?!” Aku berteriak pada Tyron.
            “Whoaa.. Turunkan sedikit nada bicaramu dong.” Tyron lalu mengangkat sedikit pedang miliknya yang tadi menancap pada tanah. “Bukankah tadi sudah kubilang kalau aku bukanlah orang yang pengecut? Lagipula.. Aku juga tidak ingin orang yang menarik sepertimu harus mati begitu saja.”
            Gigiku mengerat. Mataku  menatap tajam. Rasanya ingin ku tinju saja wajahnya. Dasar makhluk rendah tak bermoral, dengan mudahnya ia menghilangkan nyawa orang lain dengan ekspresi wajah seolah tak bersalah.
            “Lalu, apa sebenarnya yang kau inginkan?!” aku berteriak padanya.
            “Akhirnya pertanyaan yang kutunggu keluar juga dari mulutmu itu.” Lalu pedang Tyron yang tadi diangkat sedikit olehnya digerakan dan ujungnya diarahkan tepat di hadapan wajahku. “Aku ingin menantangmu untuk berduel satu lawan satu. Bagaimana?”
            Apa sebenarnya yang ia rencanakan? Mengapa tiba-tiba ia menantangku untuk berduel? Tanganku mengepal sangat keras. Kemudian aku melihat semua teman-temanku yang sedang berjuang melawan para pasukan Remidi. Terlihat bahwa mereka semakin tersudut dan seolah tak ada lagi harapan bagi mereka untuk selamat. Apa yang harus aku lakukan? Apa aku harus menerima tantangannya dan mengakhiri semua ini?
            Lalu perlahan aku mulai berdiri. “Baiklah aku menerima tantanganmu.” Tyron tersenyum mendengar perkataanku. “Tapi.. Aku minta agar semua teman-temanku dibiarkan selamat dan dihindarkan dari pertarungan ini.”
            “Wah.. Wah.. Ada-ada saja permintaanmu ini. Tapi.. Baiklah.” Tyron lalu menjentikkan jarinya dan setelah itu seketika seluruh pasukan beserta para monsternya menghilang. Semakin terlihat jelas apa yang terjadi pada teman-temanku. Banyak diantara mereka yang terluka dan tergeletak tak berdaya dengan luka yang parah. Bagi beberapa yang masih bertahan, mereka terkejut dengan hilangnya pasukan secara tiba-tiba. Tak lama kemudian mereka mulai memerhatikanku yang saat ini sedang berhadapan dengan Tyron.
            “Teman-teman!” sontak aku berteriak pada mereka sebelum akhirnya dipotong oleh Tyron. 
            “Tunggu dulu tentu saja tidak adil jika hanya kau yang meminta sesuatu.” Sekali lagi Tyron menjentikkan jarinya. Mendadak seluruh temanku terjatuh tak berdaya seolah lumpuh.
            “Apa yang kau lakukan pada mereka!!”
            “Tenang saja mereka hanya kulumpuhkan sementara sampai pertarungan kita selesai.” Dan sekali lagi Tyron mengatakannya sambil tersenyum menyeringai.
***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar