16 April 2018

DUNIA SEMU #40


CHAPTER 40 - HATI YANG TERHUBUNG

            Tangan kananku memegang erat tali tambang yang telah tersimpul laso di salah satu ujungnya. Kemudian memutarnya seperti seorang koboi yang hendak menangkap seekor kuda. Dengan posisi salah satu kaki menekuk ke depan menyangga dari ujung sampan, sementara kaki satunya lurus memanjang ke belakang. Menunggu saat yang tepat, mata ini sedikit memicing memastikan kelancaran rencana ini.
            “Lena, aku mohon tunggu sebentar.” ucapku tanpa sempat menengok ke arahnya. “Doakan semoga rencana ini berhasil.”
            Aku tak sempat memandang Lena secara langsung, namun aku yakin ia sempat mengangguk dari sudut mataku.
            Jarak kami dan Scylla sudah semakin dekat. Mungkin hanya beberapa meter. Itu pun jika lehernya tidak dibentangkan menghadap kami.
            Namun apa yang ku khawatirkan akhirnya terjadi. Monster itu tiba-tiba membentangkan leher, menghadapkan kepalanya pada kami dan kemudian membuka mulutnya yang penuh dengan gigi tajam berikut lidah bercabang yang terjulur ke luar.

18 Maret 2018

DUNIA SEMU #39


CHAPTER 39 - TENGGELAM DAN TERBANG

            “Hei gadis, apa yang kau lakukan di bawah sana?” seringai salah seorang anggota kelompok Rombusta menyeruak dari balik sampan yang tertelungkup .
Spontan Lena menjerit, meringis ketakutan karena tahu apa yang akan mereka lakukan padanya.
            “Wah, apa yang terjadi dengan pria yang tadi? Kukira dia akan terus bersamamu?” tanyanya lagi sambil melongok memperhatikan pada setiap sudut sampan.
Lena tak menjawabnya. Ia hanya menggeleng terdiam dan kemudian menunduk pasrah.
Sikap Lena tersebut sontak membuat anggota kelompok Rombusta tersebut terlihat marah dengan menaikan nada suaranya, “Hei, ada apa denganmu? Si Enutra itu tenggelam, hah?”
            “Gawaaatt!!!”
            “Tidak mungkin!”
            “Apa itu??!!”

12 Maret 2018

DUNIA SEMU #38


CHAPTER 38 - RATAPAN

            Langkah kaki tergesa seorang gadis bertudung lusuh berlari meninggalkan bangunan dua tingkat yang selama ini ia tempati. Napasnya terengah menahan rasa lelah disertai keringat yang mengalir deras dan membasahi seluruh permukaan kulitnya. Debu dan terik matahari sama sekali tak dihiraukan seakan acuh akan kulit putih halus yang ia miliki. Tak peduli dengan status sosialnya. Tak peduli dengan segala kehormatan yang ia miliki. Ia terus menerus menggumamkan nama seorang lelaki dari bibir mungilnya. Semua itu dilakukannya demi satu hal, menyelamatkan seseorang yang sangat berarti baginya. Enutra.
***

19 Januari 2016

DUNIA SEMU #37


CHAPTER 37 - TIPUAN

            Cuaca pagi ini masih cerah, sama seperti hari-hari sebelumnya. Udara lembab dan hangat khas daerah pesisir mengalir bergemuruh bersama dengan angin yang melewati setiap celah rimbunnya pepohonan. Terik matahari pagi pun masih menyorotkan sinarnya dari timur, sedikit terhalang dedaunan dan menampakkan bayangan dan cahaya yang indah.
            Tapi..
            Apa yang sebenarnya kulakukan di tempat ini? Terduduk di atas tanah coklat pasir kering, penuh dengan guguran daun, dengan pakaian seadanya tanpa alas kaki.
            “Segera kenakan baju zirahmu itu!” seru seorang gadis muda berambut merah dengan nada suara agak tinggi. Ia berdiri angkuh tepat di sampingku.
            Apa ia sedang berbicara denganku? Aku menengoknya sebentar lalu menundukkan kepala. Bagiku ucapannya hanya seperti angin lembab yang hanya mengusap kulitku sesaat dan kemudian menghilang.

9 Agustus 2015

DUNIA SEMU #36


CHAPTER 36 - KEBIMBANGAN

            “Silahkan diminum tehnya, Tuan Putri dan Tuan Enutra. Makanan utama akan segera disajikan beberapa saat lagi.” ucap sang pemilik penginapan bernama Sam sambil melayangkan senyuman ramahnya.
            “Terima kasih.”
            Saat ini aku dan Vivian berada pada halaman depan bangunan penginapan, atau bisa dibilang sebagai area cafe di penginapan milik Pak Sam. Ada enam buah meja kayu bundar berwarna putih dengan empat kursi sederhana yang mengitarinya. Posisi meja-meja tersebut terpasang dua baris saling berjajar. Sederhana namun tak menghilangkan kesan artistik akan penataannya yang dihiasi dengan beberapa pita biru kuning dan tanaman-tanaman hias yang menggantung di atasnya. Kesederhanaan yang indah dengan balutan kreatifitas seni dari sang pemilik.

7 Juni 2015

DUNIA SEMU #35


CHAPTER 35 - PENEMPA

            Langkah kaki melewati sebuah pintu kaca buram berbingkai kayu jati bersamaan dengan suara ‘Claank’ dari lonceng kecil yang menggantung di atasnya. Mataku mengamati sekitar. Nampak ruangan seluas kira-kira dua puluh meter persegi dengan berbagai peralatan bertarung seperti pedang, pisau, tombak, kapak, gada, tameng, dan baju zirah yang terpampang rapi baik di dalam etalase maupun tergantung pada dinding-dinding ruangan. Selain itu terdapat pula martil-martil berbagai ukuran yang tergantung di rangka langit-langit. Dari awal aku sudah mengira akan seperti ini ketika melihat baliho seukuran dua kali setengah meter terpampang tepat di atas kaca depan rumah Lena bertuliskan ‘Toko Tempaan Ambriel’. Ternyata tempat tinggalnya merupakan toko yang menjual hasil-hasil tempaan untuk para ksatria.

31 Mei 2015

DUNIA SEMU #34


CHAPTER 34 - PANTAI

            Sinar mentari pagi perlahan menembus melewati celah-celah dinding, memberi kehangatan nyaman selepas dinginnya udara malam. Beberapa kicauan merdu para burung pun mengalun seolah mengiringi riuh keramaian manusia yang mulai terdengar di luar sana. Aku membuka mata menatap sekitar dan sejenak terduduk di atas ranjang busa sederhana berukuran satu kali dua meter.
            “Huft.. Aku masih berada di dunia antah berantah ini.” gumamku mengawali hari pada sebuah kamar penginapan sederhana di pinggiran kota Celadoni. Setiap pagi selalu berharap untuk terbangun di kamarku sendiri. Di sebuah dunia dimana semua kenangan bersama keluarga dan teman-temanku berada. Meski kadang ingatan itu semakin samar seiring dengan berlalunya hari.